Monday, March 25, 2013

DEHIDRASI PERPARAH HIPERTENSI, KOLESTEROL DAN STRES


HAUS adalah tanda awal tubuh yang kekurangan air. Bisa terjadi setelah berolahraga berat, setelah diare, atau terik matahari yang menguras keringat. Dehidrasi bisa memperburuk gangguan stres, hipertensi, dan kolesterol tinggi.

Kehilangan cairan tubuh berarti kehilangan cairan plasma darah yang berakibat mengentalnya darah, sehingga darah mengalir lebih lambat. Dengan demikian, sel akan kekurangan pasokan zat gizi (energi) sehingga bisa terjadi rejatan (shock) dengan gejala tekanan darah tidak teratur, pusing sampai pingsan.

Untuk mencegah kondisi dehidrasi ini disarankan minum air 8 gelas sehari dengan jadwal 1 gelas setiap 2 jam, atau lebih banyak sesuai kebutuhan aktivitas pada saat itu.

MENONTON TV PENGARUHI JUMLAH SPERMA

Orang yang banyak menghabiskan waktu menonton televisi jumlah spermanya 44 persen lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang tidak menonton televisi. Penelitian ini melibatkan 189 pria berusia 18 - 22 tahun dan membandingkan orang yang menonton televisi selama 20 jam per hari dengan yang tidak menonton televisi.

Penelitian yang dimuat di British Journal of Sports Medicine dan dikutip Livescience, Senin (4/2), telah memperhitungkan faktor-faktor yang berpengaruh pada jumlah sperma, seperti kebiasaan merokok, indeks berat tubuh (BMI), dan asupan kalori.

Pria yang menghabiskan waktu untuk menonton televisi memiliki gaya hidup monoton dan jarang bergerak sehingga berpengaruh pada jumlah sperma. Sebaliknya, lelaki yang gemar beraktivitas fisik (lebih dari 15 jam per pekan) memiliki jumlah sperma lebih tinggi dibandingkan dengan lelaki yang beraktivitas fisik kurang dari lima jam per pekan. 

Ini berkaitan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan kegemukan dan pola makan berpengaruh pada kesuburan. Audrey Gaskins, peneliti di Harvard School of Public Health, mengatakan, penemuan ini menunjukkan gaya hidup aktif bisa meningkatkan kualitas sperma. (LIVESCIENCE/ICH) 

BUAH DAN KEBAHAGIAAN

MENGONSUMSI buah setiap hari dapat menjaga kondisi psikologis seseorang tetap bahagia. Hal itu disimpulkan peneliti Universitas Warwick, Inggris, setelah mengamati pola makan 80 ribu partisipan. Pola tersebut lalu dibandingkan dengan kebahagiaan hidup, kesehatan mental, dan kecemasan. 

Hasil studi itu mengungkapkan partisipan yang sehari-harinya mengonsumsi buah dan sayuran memiliki tingkat kesehatan fisik dan mental yang lebih baik. Dalam laporan yang dipublikasikan lewat jurnal Social Indicator Research itu, peneliti menghimpun poin bahwa tingkat konsumsi buah memengaruhi indikator kebahagiaan 0,25 - 0,33 poin. 

Peneliti merekomendasikan, untuk mendapat kebahagiaan, seseorang perlu mengonsumsi buah atau sayur lima sampai tujuh potong dalam sehari. 'Kebutuhan tinggi akan konsumsi buah dan sayur juga perlu bagi kesehatan mental, bukan hanya fisik', tulisnya. (The Atlantic/Kid/X-5)

STRES DAN AIR MINUM

ANDA sering merasa stres karena beban pekerjaan menumpuk? Cobalah untuk meminum segelas air mineral. 

Hasil penelitian menunjukkan, saat tubuh dehidrasi (kekurangan cairan), produksi hormon kortisol meningkat.

"Kortisol ialah hormon yang memicu timbulnya stres pada seseorang," kata ahli nutrisi Amerika Serikat Amanda Carlson.

Dari penelitiannya, Carlson mengatakan stres dan dehidrasi merupakan dua hal yang terkait. Ketika seseorang stres, ia mengalami dehidrasi juga. Sebaliknya, dehidrasi membuat seseorang merasa stres.

Perempuan yang menjabat direktur nutrisi pada organisasi Athletes Performance itu menambahkan  seluruh organ tubuh, termasuk otak, membutuhkan asupan cairan agar bekerja dengan sempurna.

Karena itu, lanjutnya, stres menjadi indikator kurangnya asupan cairan dalam tubuh. (Webmd/Kid/X-8) 

ARTRITIS REMATOID: PENGOBATAN DINI CEGAH KECACATAN

SEMARANG, KOMPAS - Artritis rematoid alias penyakit inflamasi sistemik kronik yang memengaruhi banyak organ, terutama menyerang sendi, sering terlambat diobati. Selain pasien enggan mencari terapi yang tepat secara dini, keterlambatan pengobatan juga akibat diagnosis yang tidak tepat.

Padahal, jika penyakit dideteksi dan diobati secara dini, kecacatan bisa dihindari. Gejala artritis antar lain pembengkakan pada sendi terutama di tangan dan pergelangan tangan, sendi berwarna merah, nyeri tangan, nyeri gerak, dan keterbatasan gerak.  

"Penyebab nomor satu keterlambatan penanganan umumnya karena tidak punya uang," kata Sudarsono, dokter spesialis reumatologi dari RSUP Dr Kariadi Semarang kepada wartawan, Rabu (13/2), di Semarang, Sudarsono didampingi Bantar Sutoko, ahli reumatologi yang menjadi investigator Studi Klinik ACT UP Semarang, dan Arya Wibitono, Head of Medical Affairs PT Roche Indonesia.

Sudarsono menyebutkan, penyakit rematik ada 110 jenis. Ada yang bisa sembuh, ada juga yang tidak bisa sembuh. Penyakit yang tidak bisa sembuh salah satunya artritis rematoid. Namun, penaganan penyakit ini sering terlambat. Ia mencontohkan, ada pasien yang datang setelah menderita rematik selama lima tahun. Semula pasien dianggap menderita saraf terjepit.  

"Sebetulnya artritis rematoid kalau dari awal ditangani biayanya murah hanya sekitar Rp 200.000 per buan. Kalau sudah terlambat, pengobatan menjadi mahal, sekitar Rp 10 juta per bulan," ujar Sudarsono.

Obat baru
Saat ini ada obat yang dibuat dengan cara biologi molekuler yang bekerja lebih cepat dan lebih baik daripada obat remtoid konvensional. Obat itu, tocilizumab, dapat menghentikan perjalanan penyakit artritis rematoid mencegah cacat, dan diabilitas. 

Hal yang senada disampaikan Bantar Sutoko. Ia menyebutkan, studi klinik ACT UP merupakan pengamatan penggunaan tocilizumab dalam praktik klinis pada pasien artritis rematoid sesuai indikasi yang disetujui di Indonesia. Studi ini dilaksanakan sejak Maret 2012 di sembilan pusat studi yang tersebut di beberapa rumah sakit di Indonesia.

"Pengobatan dini terbukti menentukan keberhasilan terapi dan menentukan tercapainya remisi. Pengobatan akan lebih berhasil bila ada kerja sama antara dokter, pasien dan anggota keluarga, "kata Bantar Sutoko menjelaskan. (SON)  

Friday, March 22, 2013

SULUNG DAN JANTUNG

ANAK sulung cenderung berisiko mengalami sakit jantung atau diabetes jika dibandingkan dengan yang lahir berikutnya. Demikian kesimpulan peneliti Selandia Baru setelah mengamati 85 anak sehat usia 4-12 tahun. 

Berdasarkan pengamatan tersebut, peneliti menemukan bahwa anak sulung cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi dan lebih sensitif terhadap insulin. Dua hal itu menimbulkan risiko sakit jantung dan diabetes lebih besar. 

Tim peneliti dari Universitas Auckland mendapati anak-anak yang lahir pertama cenderung memiliki tingkat inteligensi atau fisik lebih tinggi ketimbang yang lahir berikutnya. Adapun risiko sakit jantung atau diabetes, tim berpendapat hal itu disebabkan ada perubahan rahim ibu setelah kelahiran pertama. 

"Hasil ini tidak menunjukkan anak sulung menjadi gudang permasalahan kesehatan, hanya mungkin urutan kelahiran akan berpengaruh pada risiko tersebut," kata Wayne Cutfield, ahli endokrinologi Universitas Auckland. (NY Daily News/Kid/X-5)